Subarman salim

Sulawesita.com, Opini – Masihkah anda mengingat dengan jelas visi misi para calon kepala daerah pada Pilkada yang lalu? Misalnya, program pupuk murah dan terjangkau, lapangan kerja, dan kontrak honorer. Dan apa yang terjadi sekarang?

Baiklah, kita membahasnya santai saja.

Ini semua salah kita atau semata hanya salah tafsir? Salah kita adalah kalau terlalu percaya dengan janji-janji.

Salah kita yang kedua adalah menafsirkan visi-misi ibarat mendengar lagu india, terlena dan baperan saat mendengarnya, meski sama sekali tak paham maknanya.

Sebenarnya dalam etika politik, visi-misi adalah janji yang mutlak ditunaikan. Tapi, dalam strategi politik, visi-misi hanya salah satu cara untuk menggiring pemilih untuk memihak dan memilih. Jadi, perbedaannya jelas sekali.

Seorang kawan, teman ngopi berujar, “sekarang ini, visi misi tak penting lagi. Asal si calon baik ke saya, dia bayar bil kopi, atau ngajak makan malam, saya pasti memilihnya.”

Ini tipe pemilih pragmatis dan realistis. Ya, mumpung sekarang dapat untungnya, daripada berharap nanti saat menjabat (lagi), bisa menumpuk kekecewaan.

Kawan yang lain berujar, “saya memilih tergantung teman, saya percaya pilihan teman-teman adalah yang terbaik.”

Kawan yang satu ini masuk tipe pemilih film India. Yang penting Syharuk Khan, filmnya pasti bagus. Yang penting dangdutan, bisa joget barengan. Yang penting tulisannya Arab, pasti Islami. Yang penting Andi.

Kami bertiga membahas Pilkada hingga lewat tengah malam. Rasanya seperti pakar saja, membicarakan politik dan segala kemungkinan yang bakal terjadi setelah Pilkada. Syukurnya kita tidak ngotot-ngototan.

Agenda tahunan

Kembali ke soal visi misi. Jika bukan tawaran program, lalu apa lagi yang menuntun kita untuk menentukan pilihan?

Kenyataan banyak kepala daerah yang pikun dengan visi misinya sendiri. Mereka lebih memilih menyusun agenda tahunan dan mengabaikan visi. Tahun pertama pemerintahan, disibukkan dengan program balas jasa kepada tim, relawan dan donatur. Tahun kedua adalah agenda bersih-bersih ‘kabinet’ yang disebut dengan istilah mutasi.

Tahun ketiga ngumpulin duit untuk persiapan membangun citra. Tahun keempat fokus membangun citra.

Tahun terakhir, saatnya blusukan, mengundang mereka yang dulu berjuang bersama untuk kembali berjuang lagi, bahasa warkopnya adalah konsolidasi. Tahun terakhir saatnya menyusun visi-misi baru yang lebih wah dan memikat banyak simpatik.

Andai saja, visi-misi yang tak dijalankan bisa diajukan sebagai bukti kegagalan seorang kepala daerah?

Bangkrut karena film India

Dari diskusi tengah malam itu, beberapa catatan kecil sepertinya patut dijadikan bahan pertimbangan untuk calon pemilih; seorang calon kepala daerah kelak setelah terpilih, tak penting lagi anda suka atau tidak, tak penting lagi anda percaya atau meragukannya. Seorang kepala daerah akan tetap menjadi kepala daerah sampai akhir periode.

Dan jika tak muncul kandidat alternatif, atau masih mendapatkan banyak simpatik, kepala daerah itu akan melenggang ke periode kedua. Jadi, jangan pelihara iri di dalam hati. Sabar lagi untuk lima tahun ke depan.

Ohya, soal visi misi dan Film India, jadi ingat kisah dua bioskop yang pernah berjaya di kota ini. Keduanya akhirnya bangkrut karena setiap hari hanya memutar film-film India.

Penulis : Subarman Salim

Facebook Comments

Arham Basmin