Subarman Salim

Sulawesita.com – Beberapa tetangga dan sebagian dari kelurahan sebelah mengeluhkan adanya isu yang disebar oleh aparat kelurahan tentang jatah Raskin yang akan dipangkas. Kontan isu ini menimbulkan rasa was-was, kabar kalau sebagian dari mereka yang selama ini menikmati jatah Raskin terancam gigit jari.

Sementara, menghitung hari ke depan, jatah Raskin kembali akan disupali ke kelurahan/desa. Karena informasi itu, beberapa warga memprediksi pembagian Raskin kali ini bakal kacau, apalagi sebelumnya pun pendataan masih dianggap kurang valid.

Ada saja warga yang membandingkan tingkat ekonomi seorang penerima Raskin dengan beberapa warga yang lebih layak memperolehnya, namun tidak masuk dalam warga miskin. Mungkin banyak di tempat lain, warga miskin tapi luput dari pendataan.

Insiden seputar Raskin

Sejauh ini, Raskin mendapat apresiasi positif, karena dengan harga sepertiga (bahkan kurang) dari harga pasar, warga bisa mendapatkan beras untuk konsumsi sehari-hari.

Tapi dalam pelaksanaannya, tetap saja muncul insiden yang merusak reputasi warga miskin (sudah miskin, rebutan pula). Misalnya, mereka yang berkerumun di kantor kecamatan dan lurah/desa, ada saja warga yang teridentifikasi (terlihat) bukan warga miskin, setidaknya dilihat dari perhiasan emas yang menggantung di leher atau melingkar di lengan. Bahkan, beberapa unit mobil pribadi digunakan oleh warga untuk datang menjemput jatah Raskin (mungkin diantar tetangga).

Model penyaluran Raskin dengan cara mengumpulkan mereka di satu tempat, sebenarnya tak elok. Cara-cara yang sebenarnya sudah sering dikritik karena rawan dengan tekanan psikologis. Mereka yang datang meminta jatah beras otomatis
mencitrakan diri sebagai orang miskin.

Namun yang tidak terduga, justru pernah terjadi insiden saling curiga antar warga, klaim miskin dan tuduhan yang lain tidak layak menerima bantuan adalah salah satu bentuk lemahnya mekanisme pendataan yang dilakukan oleh pihak penyalur. Tentu saja penampakan itu masih perlu kroscek lebih jauh.

Tapi, hal yang menggelikan sekaligus miris adalah adanya pengerahan warga penerima jatah raskin untuk melakukan kerja bakti. Pengerahan itu tentu saja bernada tekanan, sebab beredar informasi kalau mereka yang tak ikut kerja bakti akan ditahan jatah berasnya (Raskin dan kerja bakti, gak ada hubungannya kok).

Tolong jangan kurangi Raskin untuk citra

Soal angka kemiskinan memang daerah kita punya reputasi yang tidak bagus. Bahkan, Bone tercatat memiliki jumlah warga miskin di Sulsel terbanyak yakni 314.569 jiwa dari 80.157 KK, di bawahnya ada Gowa (271.566) dan Makassar (228.144), berdasarkan data dari Program Perlindungan Sosial 2015. (radarbone.fajar.co.id, 3/3/2017)

Apakah isu pengurangan jatah Raskin ini terkait dengan data jumlah warga miskin itu? Jawabannya bisa iya, kalau angka tersebut kini mengalami pengurangan, karena data itu diambil di tahun 2015. Meski begitu, tetap perlu dilakukan pendataan yang lebih valid lagi, karena belum dikurangi pun warga sudah resah. Apalagi, kalau pengurangan itu betul-betul jadi.

Yang paling memprihatinkan tentu saja, jika pemangkasan jatah Raskin terkait dengan upaya pengentasan kemiskinan. Maksudnya, menekan jumlah kemiskinan dimulai dari mengurangi jatah Raskin.

Jadi, demi menyelamatkan kehidupan warga miskin, tolong jangan kurangi jatah raskin, hanya karena takut dicatat sebagai daerah termiskin.

Facebook Comments

Arham Basmin