1482818499420

Surat terbuka dari Andi Singke yang di tujukan kepada bupati BONE menjadi perbincangan publik pasca surat terbuka itu di unggah dalam akun media sosial nya 26/12/2016.

Surat terbuka itu menjadi viral di media sosial, dukungan dan respon positif terhadap isi surat terbuka tersebut mengalir dari berbagai kalangan.

Saat di konfirmasi melalui akun pribadi beliau kami berhasil mewawancarai secara singkat ttg dasar, harapan dan konswkensi gerakan pasca terbitnya surat terbuka tersebut.

Berikut hasil interview singkatnya :

Apa dasar dari surat terbuka tersebut?

Jawaban beliau :
Miris melihat pola pembangunan yg tidak termanaj dgn baik, pembangunan banyak tetapi pengelolaan pembangunan yg kurang baik, termasuk skala prioritasnya, miskin di pembangunan manusia.

Apa harapan dan target dari isi surat terbuka tersebut?

Jawaban beliau :
Target dengan tujuan Malilu sipakainge konsep pappaseng dimensi sosial takkalupa sipatalinge, teguran dengan upaya mengingatkan kepada bapak Bupati, dari kami pabbanua/rakyat.

Apakah dimungkinkan lahir konswekensi GERAK krn melihat repon publik yang begitu tinggi?

Jawaban beliau :
Iyye akan ada tindak lanjut, teman teman IKA KEPMI BONE yang akan menginisiasi forum untuk membahas lebih serius akan konsep dan gagasan surat terbuka ini, terutama aspek pembangunan manusia.

Berikut surat terbuka tersebut :

SURAT TERBUKA
KEPADA YANG TERHORMAT BAPAK BUPATI BONE (Sebagai catatan Akhir Tahun)
Taparajaiangnga Addampeng
Ujujung Upari Botto Ulu saya junjung kemuliaanta diatas kepalaku
Ri Pakka Ulaweng Ada Dari Kata, ucapan dan tulisanku yang bercabang(menjadi perbincangan orang)
Dengan senantiasa Mabbulo Sipeppa, Malilu Sipakainge, Mali siparappe, Rebba Sipatokkong.
Tabe Puang Kesetiaan rakyat kepada pemimpinnya, sesungguhnya diukur ketika berani berkata salaki jika salah dan berkata Tongeng jika benar, kritik pun demikian ini tertuang dalam kontrak sosial, perjanjian to manurung dengan para matoa Anang (filosofi kepemimpinanta) saat kerajaan Bone ingin didirikan, mudongirikkeng temattippakkeng, musalipurikkeng temmadinging, muase temmakkare. Jadi tabe puang Bukan berkata benar walau salahki karna hanya ingin membuatki senang atau ingin bikinki jadi sorot publik seperti sebagian orang dilingkaranta.
Demikian pula kritik saya puang dan sebahagian orang selama ini adalah wujut kesetiaan kami ke kita puang sebab kami hanya berkawan dengan kebaikan. Namua ri cemmeka uwwae sitasi…..
Tabe Puang ingatki pappasengnna tau riolota, percakapan La Mellong dengan Arungmpone
Iyana tanra cinna matena tana marajae, Arumpone.
1. Linga’ Linga’E,
2. narekko teai ripakainge’ arung mangkauE,
3. de’e tomacca ri wanuaE,
4. narekko naenreki warangparang tomabbicaraE,
5. weddo’ pada gau’e ri lalempanua,
6. tenamaseiwi atanna arung mangkau’E .
Artinya: Adapun tanda-tanda akan hancurnya negeri besar wahai Arumpone adalah ketidakpedulian, yang kedua, jika raja penguasa tidak mau diperingati, yang ketiga, tidak ada orang pandai dalam negeri, yang keempat, jika hakim menerima suap, yang kelima banyak kerusakan dalam negeri, yang keenam, raja penguasa tidak mengasihi rakyatnya.
Tabe Saya dan Kami bersamata puang
Puang Ancajiki pangulu/pemimpin seperti orang tuata dulu menitipkan kawali yang filosofinya melihat bentuk pangulu yang membungkuk/rekkko “kalena” seorang pemimpin haruslah merunduk kepada kebaikan, membungkuk kepada kebenaran sebagai simbolisasi dari sikap menghargai dan menghormati hak-hak orang lain, peduli dan mendengarkan saran dan masukan, karena pemegang pangulu adalah rakyat, karena pemegang kedaulatan adalah rakyat.
Tabe Puang Kami sedih, messsi babuaku, elo mitti uwwae matakku, dari lubuk hati yang paling dalam maafkan Kami.
Taparajaiangnga Addampeng
Massimanna.

Atanna Tana Bone
singkeru rukka
BTP 26/12/2016

Facebook Comments

Arham Basmin