"Selamat Tinggal Sunset Losari" oleh Subarman Salim
Potret Pantai Losari Dan Sunsetnya

Sulawesita.com, Opini – Saya ingat di tahun 2000 lalu, saat proses relokasi PKL jalan penghibur ke metro Tanjung Bunga, bersama kawan-kawan mahasiswa kita melakukan konsolidasi bersama para pedagang. Setiap malam, setelah pengunjung pergi, kita terkumpul di kios Pak Ahmad yang saat itu didaulat sebagai koordinator PKL. Kita membahas semua kemungkinan ketika relokasi PKL betul-betul terjadi. Kita diskusi dan terjaga hingga suara mesjid subuh terdengar.

Awalnya, kami datang dengan semangat juang bak Robin Hood yang hendak menyelamatkan kehidupan rakyat miskin dari cengkeraman penguasa yang berwatak jahat.

Sesuatu yang belum kita pahami saat itu adalah kehidupan Losari yang bukan hanya mereka yang senang Sunset, pasar malam, para pedagang, pengemis, pengamen, dan lalu lintas kendaraan. Itulah gambaran awal dan menjadi modal kami masuk melakukan pendekatan ke kelompok PKL kala itu. Losari adalah wajah Makassar.

Cerita heroik perjuangan menentang relokasi itu memang bisa ditulis dengan beragam versi. Saat relokasi terjadi, hal-hal yang miris dan gesekan psikologi hingga benturan fisik tak terhindarkan.

Ada kabar, kalau proses relokasi itu telah menghancurkan hidup beberapa pedagang, sebaliknya telah mengangkat taraf hidup beberapa aktivis. Setelah relokasi itu, kita tercerai-berai, kembali ke kampus masing-masing.

Kini, 16 tahun berlalu, relokasi dinaikkan statusnya menjadi reklamasi. Kata seorang kawan yang telah lama prihatin dengan Losari, “pertanyaan yang harus diajukan adalah apakah kita butuh reklamasi sementara wilayah daratan kita masih luas? Mengapa tidak mengembangkan kawasan yang lain guna memeratakan pertumbuhan ekonomi untuk perluasan lapangan kerja baru agar warga tak menumpuk di satu titik?”

Saya membenarkan argumen kawan itu, karena jika pemerintah bisa berlaku adil, seharusnya Pemrov memikirkan untuk mengembangkan daerah pesisir lainnya, misalnya Bone di utara, Palopo atau Bulukumba di selatan sebagai penyanggah ibukota Propinsi agar urbanisasi bisa ditekan termasuk event-event dialihkan ke daerah-daerah. Ini sekaligus bisa mengatasi ketimpangan antar kota atau kabupaten.

Reklamasi untuk siapa?

Bertanyalah ke warga sekitar Rajawali yang harus menahan diri, apakah setiap saat menutup hidung dari aroma air yang tercemar dan tak mengalir, baunya tak sedap. Ancaman serius lain adalah virus yang melekat dan tumbuh subur pada sedimentasi dan air menggenang menjadi sumber penyakit.

Ini hanya salah satu dari sekian aspek yang dinilai ketika sebuah proyek fisik akan dibangun, harus lolos uji Analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL). Tapi, pembangunan Mega proyek di pantai Losari sudah berjalan, dan hanya kekuatan besar yang mampu menghentikannya.

Kabarnya bangunan megah itu telah gonta-ganti nama. Pernah digelari Wisma kenegaraan, ini demi mengesankan diri kalau-kalau Ibukota bisa dipindahkan ke Makassar. Ada juga yang menamainya dengan Kawasan ekonomi terpadu, memimpikan bagaimana siklus ekonomi besar bisa berlangsung di sana. Dan anyar adalah Center points Indonesia (CPI), nama yang kini lebih banyak dibicarakan.

Mengapa Mega proyek ini terus ditentang? Karena dampak lingkungan pasti ada dan secara nyata tak bisa dielakkan. Lalu bagaimana proyek megah itu bisa lolos? Sesuatu yang tak terlawan telah terjadi, ataukah ini telah diamini semua pihak (eksekutif, legislatif dan aktivis)?

Anda rela melepaskan Losari?

Kini, 16 tahun setelah relokasi PKL, Losari telah diseret ke atas meja rancangan proyek trilyunan bernama reklamasi. Kini bukan lagi sekedar memahami bagaimana habitat PKL yang pelik. Bahkan, sesautu yang tak pernah terbayangkan pun bakal menimpa Losari. Sunset Losari tak lama lagi bakal jadi kenangan, hanya kenangan. Wajah Makassar di Barat kini ditutupi gedung gedung tinggi, berdiri di atas matinya jutaan biota laut.

Losari yang natural-eksotis harus menyerah di bawah todongan uang atas nama penataan. Sayangnya, suatu waktu di sebuah sore, tak akan ada lagi sunset Losari yang romantis. Pandangan ke arah barat akan tertuju pada penghuni apartemen yang setengah bugil dibalut handuk.

Losari menjadi megah, namun tak antik lagi. Di sini kita akan bertanya, kemana sunset Losari? Sesuatu yang amat mahal tentu saja, jika kelak sunset Losari hanya bisa disaksikan di balik jendela apartemen yang megah itu.

Hei warga Makassar, anda rela melepaskan Losari begitu saja?

Penulis : Subarman Salim

Facebook Comments

Arham Basmin