Beranda Opini Merayakan Harapan oleh Bagus Wawan Setiawan

Merayakan Harapan oleh Bagus Wawan Setiawan

96

Sulawesita.com – Menyelesaikan sebuah cerita dengan seorang kawan lewat sosial media adalah hal yang memberikan sebuah harapan tentang pertemuan dan kerinduan. Kami hanya membahas hal biasa tidak perlu pembahas berat-berat apalagi sampai menguras otak. Kawan bertanya, mengapa kamu suka membaca buku yang berbahaya? Ku jawab saja buku yang Seperti apa itu? Itu buku yang katanya tentang anarkis global. Sambil saya tersenyum meski hanya lewat kata hehehehe. Saya rasa cukup sampai disitu saja diskusi ini. Akhirnya kawan tadi mengingatkan saya untuk menyelesaikan sebuah bacaan yang tertunda.

Pada akhirnya saya teringat tentang kelahiran sebuah negeri yang hebat pada dahulu kala. Ketika saya masih sering mendengar kisah tentang sebuah kerajaan yang besar pada masanya. Tepat beberapa hari ke depan kerajaan yang sekarang menjadi daerah otonom itu akan merayakan hari jadinya yang ke 687. Tidak susah untuk menandai akan adanya perayaan hari jadi kabupaten bone, karena akan ada beberapa acara yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah. Misalnya saja akan ada Bone fair 2017, semacam acara pameran yang dipusatkan di tengah kota. Membahas soal Bone fair ini, tiba-tiba timeline Facebook, sebuah status berkata Bone fair tapi tidak fair karena parkiran mahal atau Bone fair, tidak fair karena stand yang sewanya mahal. Seperti itulah sedikit orang yang menyampaikan keluh kesahnya.

Padahal itu sudah ada di daerah tengah kota dan kegiatan yang dibuat oleh pemerintah daerah, harusnya punya sebuah cara agar setiap rakyat banyak bisa menikmati kegiatan tersebut tanpa ada keluh kesah karena kita ingin agar semua rakyat Bone khususnya dapat menikmati kegiatan tersebut.

Marilah sejenak kita coba beranjak ke masa lalu untuk sekedar mengetahui sejarah kita sendiri. Kerajaan Bone terbentuk pada awal abad ke XIV atau pada tahun 1330, namun sebelum Kerajaan Bone terbentuk, sudah ada kelompok-kelompok dan pemimpinnya digelar Matoa.

Dengan datangnya TO MANURUNG Mata Silompo’E, maka terjadilah penggabungan kelompok-kelompok tersebut, termasuk Cina, Barebbo, Awangpone dan Palakka. Pada saat pengangkatan TO MANURUNG Mata Silompo’E, menjadi Raja Bone, Rakyat Bone bersumpah sebagai pertanda kesetiaan Rakyat kepada Raja, ini hanya sedikit kisah dari daerah ini. Banyak hal kisah kepahlawanan yang pernah kita dengar, contoh kecil saja bagaimana sosok pahlawan Arung Palakka yang mampu menjadi raja Bugis pada masanya. Saya tidak ingin membahas terlalu jauh tentang masa lalu awal mula daerah otonom kabupaten Bone.

Mencoba beranjak dari sepenggal kisah masa lalu, mari mencoba melihat masa sekarang. Kabupaten Bone sebagai salah satu daerah yang berada di pesisir timur Sulawesi Selatan memiliki posisi strategis dalam perdagangan barang dan jasa di kawasan timur Indonesia yang secara administratif terdiri dari 27 kecamatan, 328 desa dan 44 kelurahan. Kabupaten ini terletak 174 km ke arah timur. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Bone, jumlah penduduk Kabupaten Bone Tahun 2014 adalah 738.515 jiwa, terdiri atas 352.081 laki‐laki dan 386.434  perempuan. Dengan luas wilayah Kabupaten Bone sekitar 4.559 km2 persegi, rata‐rata tingkat kepadatan penduduk Kabupaten Bone adalah 162 jiwa per km2.

Dari hal yang terpapar kita punya potensi yang luar biasa. Namun di balik semua kemilau pembangunan yang berwarna-warni dan kegiatan yang bersifat ceremonial, seolah pemerintah daerah lupa akan pemerataan pembangunan yang ada di pelosok daerah. Seperti cerita seseorang yang menjadi tempat saya belajar. Dia memaparkan sedikit hal tentang ketimpangan pembangunan, bahwa masih Banyak dan hampir semua kecamatan pinggir akses ke desanya tidak bagus. Kec.bontocani, pusat kec ke desa bontojai, langi, pattuku, ere cinnong dll rusak, kec.libureng desa baringeng rusak. Kec tellu limpoe lebih parah, desa tapong, tondong dll tidak ada akses jalan roda empat ke pusat kec, jadi harus kesoppeng dulu bulu dua baru bisa ke watampone. Kec ponre desa mattampae, tellu boccoe.

Sebuah pemaparan yang miris bagi saya, dengan potensi yang ada tetapi kondisi yang begitu memprihatinkan masih saja nampak jelas di depan mata kita. Lain pula kondisi yang diceritakan oleh seorang junior yang baru saja melakukan sebuah kegiatan bakti sosial ke salah satu desa yang berada di kabupaten Bone. Dia mengatakan kalau di desa tersebut jalanan jelek dan listrik pun tidak ada. Sungguh sangat miris dengan kondisi seperti ini.

Seharusnya pemerintah daerah punya gebrakan yang bisa menyelesaikan persoalan diatas, jangan ada perhatian ke bawah ketika mendekati pilkada, itu namanya tidak fair.

Selamat hari jadi Bone yang ke 687 semoga bisa memberikan pemerataan pupuk, memberikan lapangan kerja dan pemerataan pembangunan di setiap sendi kehidupan masyarakat Bone. Mari mengambil semangat para perjuangan dimasa lalu demi membangun masa depan yang lebih baik lagi.
Sumange Tealara.