Menjawab Tantangan Globalisasi dengan Pendidikan Vokasi

Era globalisasi telah meniscayakan terjadinya kompetisi terbuka antar negara yang ada di seluruh dunia. Tidak ada lagi batasan antara satu negara dengan negara lainya. Semuanya bisa saling terintegrasi dan bersinergi satu sama lain. Hampir tidak ada yang bisa menolaknya, karena ia hadir seiring dengan berkembangnya peradaban umat manusia serta pesatnya kemajuan teknologi informasi, komunikasi dan transportasi. Oleh karena itu, tidak ada jalan lain yang bisa dilakukan selain menghadapinya.

Secara umum, globalisasi membawa banyak manfaat bagi bangsa-bangsa yang ada di dunia. Namun, untuk bisa merasakan manfaat itu ada syarat mutlak yang harus terpenuhi. Salah satu syarat itu adalah tersedianya Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Jika tidak, alih-alih bisa mendapatkan manfaat, justru yang terjadi adalah keterpurukan.

Dilema Bangsa Kita

Belum lama ini United Nation Development Programme (UNDP) merilis data survei per tahun 2017 tentang Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang ada di Indonesia. Data itu menyebutkan bahwa IPM Indonesia mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu dari peringkat ke-110 turun menjadi 113.Hasil survei ini sangat jelas menunjukan betapa tidak berdayanya bangsa kita saat ini. Setelah lebih dari tujuh puluh tahun merdeka, kita masih seperti jalan di tempat tanpa progres yang berarti.

Keadaan ini tentu sangat berbahaya. Mengingat bangsa kita memiliki nilai lebih dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain. Kita memiliki Sumber daya alam (SDA) yang melimpah ruah serta posisi yang strategis. Jika kita tidak memiliki kualitas SDM yang mumpuni, maka bisa dipastikan apa yang menjadi milik kita akan digarap oleh orang-orang dari bangsa lain. Kita pun hanya bisa pasrah menjadi penonton di negeri sendiri.

Dengan demikian, maka harapan untuk menjadi bangsa yang mandiri dan bisa berbuat banyak di tengah arus globalisasi yang ada saat ini hanya akan menjadi isapan jempol semata. Kita akan semakin bergantung dengan bangsa asing dan terus menerus menjadi bulan-bulanan mereka. Untuk itu, harus ada upaya yang dilakukan agar kita bisa keluar dari persoalan yang pelik ini.

Pendidikan Vokasi Sebagai jalan Keluar

Mencari solusi dari setiap persoalan yang ada tentu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Akan tetapi, jika persoalan itu berkaitan dengan peningkatan SDM maka salah satu jalan yang bisa ditempuh adalah dengan menggalakan kembali pendidikan vokasi di tanah air. Tentu kita akan bertanya, kenapa pendidikan vokasi bisa berimplikasi pada peningkatan SDM?

Untuk menjawab pertanyaan ini, penting kiranya bagi kita untuk memahami apa yang diutarakan oleh Webster dalam tulisannya yang menyebutkan bahwa pendidikan vokasi merupakan program pendidikan yang terintegrasi dengan pelatihan yang ditujukan untuk menguasai keahlian kerja secara spesifik baik itu untuk bidang industri, pertanian ataupun perdagangan.

Dari sini kita bisa melihat bahwa dalam pendidikan vokasi ada nilai dasar yang khas, yakni adanya hubungan antara perolehan pengetahuan, keterampilan dan sikap dengan keahlian yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Dengan nilai ini maka setiap individu yang menempuh jalur pendidikan vokasi pada akhirnya akan bisa menjadi tenaga kerja yang terampil.

Akan tetapi, untuk menghasilkan keluaran yang berkualitas dan siap pakai, tentu saja tidak semudah membalikan telapak tangan. Ada hal-hal penting yang harus dilakukan oleh penyelenggara pendidikan vokasi. Tanpa memperhatikan hal-hal itu tentu saja akan sulit untuk bisa menghasilkan keluaran sebagaimana yang kita harapkan.

Proses Ideal dalam Pendidikan Vokasi

Tidak bisa dipungkiri bahwa rendahnya kompetensi lulusan masih menjadi salah satu dari sekian banyak persoalan yang menghantui dunia pendidikan vokasi. Tidak jarang, mereka yang telah menamatkan pendidikan vokasi justru hanya menambah jumlah pengangguran dan daftar orang yang tidak memiliki skill di negeri ini. Namun demikian, tidak berarti bahwa hal tersebut tidak bisa dicarikan jalan keluarnya.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk memperbaiki keadaan ini. Pertama, menyediakan tenaga pengajar yang berkompeten. Jika penyelenggaraan pendidikan tidak berjalan dengan baik akibat kurangnya tenaga pengajar berkompeten, maka tidak perlu ditawar-tawar untuk langsung menggantinya dengan tenaga pengajar yang lebih unggul.

Kedua, menyediakan ruang praktik yang memadai. Hal ini perlu dilakukan mengingat orientasi dari pendidikan vokasi adalah untuk menghasilkan tenaga kerja yang terampil dan siap pakai. Untuk itu, ruang praktik yang memadai akan sangat membantu mereka agar bisa membiasakan diri bersentuhan dengan kerja nyata dan bukan hanya teori.

Ketiga, memperluas kesempatan magang baik itu di instansi pemerintah ataupun perusahaan swasta. Proses magang tentunya sangat penting sebagai bentuk pembiasaan untuk berhadapan dengan realitas yang sesungguhnya. Selain itu, program magang bisa memberikan pengalaman lebih sehingga bisa menjadi nilai tambah saat terjun ke masyarakat.

Memang,untuk menyiapkan SDM berkualitas tidak bisa dilakukan dalam waktu yang cepat. Apalagi jika regulasi yang dibuat oleh pemerintah selalu berubah-rubah saat ada pergantian pejabat. Akan tetapi, jika memang semua pemangku kebijakan di bangsa ini ingin berkomitmen untuk meningkatkan kualitas SDM lewat pendidikan vokasi, maka tidak ada pilihan lain selain duduk bersama kemudian menyamakan persepsi agar bisa melahirkan ide-ide yang cemerlang. Dengan demikian, maka harapan untuk bisa melahirkan generasi yang siap bertarung dalam pusaran globalisasi ini bisa terwujud. Namun, jika setiap pemangku kepentingan masih bersikeras untuk mengedepankan ego masing-masing, maka siap-siap saja kita menjadi kuli di negeri sendiri.

Nama : BAIZUL ZAMAN, S.Kom,.MT

-Dosen di STMIK Kharisma Makassar
-Alumni Pascasarjana (PPs) UNHAS Angkatan 2013 Jurusan Teknik Elektro, Bidang Teknik Informatika.
-Alumni Peneliti Di AIMP Research Group Universita Hasanuddin
-Ketua IEEE SB UNHAS Tahun 2014-2015
-Alumni STMIK Dipanegara Makassar Tahun 2010.
-Pernah menjadi ketua Umum ITC Sulawesi Tenggara-Makassar tahun 2008-2009.

Facebook Comments

Arham Basmin