Subarman Salim

Sebenarnya, bisa banyak prediksi kemana suara Agus untuk putaran kedua. Yang melihat Pilkada DKI masih antara Jokowi vs Prabowo, maka pemetaan relatif simpel, kaum berideologi Salawi (semua salah Jokowi) dipastikan berpaling dari Ahok.

Mereka yang menggunakan kacamata partai, kubu PPP dan PKB punya jalan untuk bergabung ke Ahok. Sementara untuk PAN agak dilematis, bergabung ke Paslon 3 berarti rujuk kembali dengan Gerindra. Sementara, jika konsisten mengawal isu penistaan agama, maka Demokrat pasti merapat ke Paslon 3.

Sementara, Ormas fanatik dan tukang demo, bisa dipastikan bakal berada dalam lingkaran Anies-Sandy. Tipikal mereka sejalan dengan apa yang akan diperjuangkan oleh Paslon berslogan OK OC: membangun(kan) manusia.

Untuk mengimbanginya, Ahok-Djarot perlu memikirkan untuk merangkul organisasi profesi. Mereka yang profesional cenderung bergabung dengan calon yang tak mendikte. Mereka yang profesional hanya butuh diberi ruang untuk berekspresi dan berkreasi. Bahkan, mereka bisa berkontribusi untuk turut berkampanye jika berhasil merebut hati mereka dan meyakinkan visinya.

Prediksi keempat, suara mengambang (swing voters) adalah mereka yang pragmatis. Mereka yang memilih karena uang atau karena ikut tren. Kemungkinan jumlah swing voters ada pada angka sekitar 5-6%. Mereka bisa diajak dengan iming-iming uang atau dengan intervensi.

Jadi, bisa diprediksi suara Agus masih sangat terbuka untuk diperebutkan.

Yang terakhir yang perlu dikawal adalah pihak penyelenggara. Ada beberapa laporan tindakan kecurangan dan kekurangan kertas suara pada tingkat TPS.

Melihat apa yang terjadi pada putaran pertama, maka Pilkada DKI putaran kedua kita optimis bisa berjalan dengan lancar dan aman.

Selebihnya, semua hanya perlu menahan diri untuk tidak lagi menyerang SARA atau melakukan tindakan curang yang berpotensi merusak tatanan demokrasi ini.

Kalaupun masih masih ada yang tak tahan untuk tidak curang, lakukanlah asal jangan ketahuan, hehe.
Penulis : Subarman Salim