Sulawesita.com, MAKASSAR- Kisah tentang nama Tata’ Saraila, kini memudar dan tak banyak lagi orang – orang yang ingat, kecuali hanya segelintir orang saja yang mengetahuinya tentang cerita seramnya prilaku yang menyimpang, sehingga membuat dikalangan remaja laki – laki dikala itu ketakutan dibuatnya.

Tahun 1988. Dimasa itu langit cerah dan terik matahari seakan membakar kulit orang – orang yang berlalu lalang melintasi Pusat Pertokoan atau juga familiar disebut Sentral Jaya, Kotamadya Tingkat II Ujung Pandang. Tiba – tiba terdengar suara teriakan yang sungguh mengejutkan, dikalangan banyak orang selaku pengunjung dikawasan pusat pertokoan saat itu karena kalimat yang agak membuat merinding yaitu bernada “Woaaaaaaa!” Walau sesungguhnya dikalangan pedagang beraneka batu cincin dan servis jam tangan hal yang sudah biasa.

Gondrong Baluta’. Demikian dibanyak orang menyebutnya sosok Tata’ Saraila, yang mengindikasikan potongan rambut yang dibiarkan tumbuh panjang dan tak terurus. Perawakan fisiknya kekar, tinggi semampai dengan kumis lebat yang menghiasi raut wajahnya. Ciri yang lain adalah senantiasa mengenakan baret berwarna merah terang sebagai hiasan penutup kepala. Disekujur tubuhnya dilukisi tatto’ dengan berbagai gambar dan yang dominan adalah Tatto’ Raja dengan bentuk tengkorak, ular cobra, macan dan kalajengking, yang sangat menakutkan apabila diperhatikan. Pada bagian jarinya dihiasi cincin batu akik yang cukup terbilang besar dan dipergelangan tangannya pun tak terlepas asesoris berupa gelang akar kayu berwarna hitam pekat (ponto aka’ kayu le’leng).

Selain berprofesi preman dikawasan pusat pertokoan (Sentral Jaya) juga gemar berkelahi dan memalak terkhusus dikalangan pedagang Tionghoa dengan penjaminannya adalah rasa aman. Disisi yang lain, berkembang cerita dimasa itu bahwa sosok Tata’ Saraila, juga dikenal suka menculik remaja laki – laki untuk kemudian digaulinya sebagai pelampiasan nafsu seks. Namun cerita yang berkembang pesat dikalangan banyak orang sepertinya sulit diperoleh akan kebenarannya. Mungkin kesemuanya hanyalah desas – desus yang dihembuskan pada sosok preman ini, seakan cerita suka menculik remaja laki – laki agar membuat dan membekas pada ingatan orang bahwa hal tersebut benar.

Kisah tentang Tata’ Saraila kemudian memudar dan tak banyak lagi orang – orang yang mengingatnya, kecuali beberapa saja yang mengetahui kisahnya. Bagi yang mengingat kisahnya tentu karena cerita seramnya tersebut. Sosok Tata’ Saraila, merupakan sosok yang menakutkan dikalangan dunia hitam diKotamadya Tingkat II Ujung Pandang, pada akhir 1980 – an. Sebagaimana diketahui bahwa premanisme dipasar, terminal, pelabuhan hingga lokalisasi prostitusi. Merupakan dua (2) sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Tersebutlah nama Hercules, yang menguasai pasar lokal Tanah Abang dikota Jakarta, Baharuddin, yang menguasai lokalisasi prostitusi Kramak Tunggak dikota Jakarta, Baco Bolong yang cukup disegani dikawasan pelabuhan Tanjung Perak dikota Surabaya.

Dijaman moderen ini, premanisme mulai memperkuat wilayah kekuasaannya ketempat hiburan malam dan sebagainya. Premanisme memang merupakan sebentuk penyakit sosial yang menggerogoti rasa keamanan masyarakat. Namun kenyataannya banyak pula pihak yang membutuhkannya sebagai jasa keamanan. Maka peran jasa keamanan preman seringkali diminta oleh sebagian para pemilik usaha hingga tak sedikit pula jasanya digunakan oleh dikalangan pejabat dinegeri Indonesia. Hal ini terkadang dipelihara dan atau diback up keberadaannya. Terkadang para preman melegitimasi dirinya dan ikut serta bergabung dengan organisasi kemasyarakatan atau berafiliasi dengan ruang – ruang politik tertentu. Selain penjaminan keamanan sekaligus ada posisi yang terbilang strategis yang didapatkannya.

Tata’ Saraila, pun akhirnya berafiliasi dengan organisasi kemasyarakatan sebagaimana yang tertera pada foto dikolom ini. Tampaknya sosok Tata’ Saraila, menikmati fasilitas atas perkawanan tersebut.

Namun diakhir tahun 1990 – an, seiring dan terbakarnya pasar sentral dan pusat pertokoan dikala itu. Nama Tata’ Saraila, mulai memudar dan senyap untuk dibicarakan dibanyak kalangan pedagang dan para pengunjung disana. Raja yang menghiasi kulitnya tak lagi sangar, melumer bersama kulit dan ototnya yang tak lagi kencang seperti dulu lagi. Dihari – hari yang usianya menjelang senja, sosok Tata’ Saraila menghabiskan sisa kehidupannya dipanti jompo yang bernama Tresna Werdha, yang berlokasi dijalan Poros Malino, Kabupaten Gowa.

Sosok Tata’ Saraila, yang dimasanya menakutkan dengan penampilan sangar karena cambang dan kumis, rambut gondrong baluta’, beraneka tatto raja disekujur tubuhnya. Kini berubah sebagai sosok renta yang menghadirkan senyum hangat seperti seorang kawan lama yang seakan tiada pernah berjumpa. Senyum Tata ‘ Saraila, seakan juga berpesan menghapus jejak sangar diwajahnya.

Tata’ Saraila, merupakan legenda dunia hitam diKotamadya Tingkat II Ujung Pandang, pada akhir tahun 1980 – an. Hidupnya kini dalam kehidupan putih selaras tumbuhnya rambut uban yang berwarna keperakan bersama kawan – kawan se-usia senjanya dipanti tersebut. Kisah kelamnya mungkin tak elok dijadikan kenangan pada anak – anak tapi sosok Tata’ Saraila, layak untuk dikisahkan sebagai salah satu Urban Legend dikota Makassar.

Semoga bermanfaat bagi para Saudara.
Terima kasih.

Sumber: Ka Enal kopigiKeliling FB( Zainal Crs)

Facebook Comments

Arham Basmin