Beranda Bisnista DISKUSI PUBLIK : Pasar Sabtu Sebagai Gerakan Alternatif Berbasis Ekonomi Sosial Budaya...

DISKUSI PUBLIK : Pasar Sabtu Sebagai Gerakan Alternatif Berbasis Ekonomi Sosial Budaya (Ekosob) Dalam Merebut Ruang Kota

52

jgjhjh

Pasar sabtu menjadi sebuah perbincangan hangat di Kota Makassar akhir-akhir ini, sebab beberapa minggu yang lalu aktivitas para pelapak Pasar Sabtu ini mendapatkan halangan atau dalam artian gangguan dari Pemerintah Kota Makassar. Pasar Sabtu dilihat sebagai ruang yang menganggu ketertiban umum, sebagai ruang yang membuat jalan menjadi kotor, dan sebagai ruang yang mengganggu kenyamanan Kota Makassar dalam perspektif Pemerintah Kota Makassar.

Berangkat dari keadaan objektif di atas, Kami dari Leadership And Management of Public (LAMP) Institute bekerja sama dengan Cafe Dialektika berinisiatif untuk mengadakan Diskusi Publik dengan Tema “Mencipta Ruang Publik: Antara Itikad Pemerintah dan Swakelola Warga Kota” pada hari Jumat, 16/12/2016, Pukul 19:30 WITA, di Café Dialektika (Wesabbe). Adapun narasumber dalam kegiatan Diskusi ini yakni Haci sebagai salah satu penggiat Lapakan Pasar Sabtu dan Muh. Nawir sebagai Pengamat Isu Perkotaan.

Diskusi ini dimulai dengan keterangan dari salah satu Penggiat di Pasar Sabtu yakni Saudara Haci. Dalam poin yang disampaikan narasumber pertama ini,Kawan Haci memberikan penjelasan bahwa Yang harus dipahami terlebih dahulu ialah Pasar Sabtu ini merupakan suatu aktivitas dari inisiatif sebagian warga Kota Makassar yang tidak hanya berbicara soal Proses Jual-Beli (Ekonomi) tetapi juga berbicara soal hak sipil, politik, sosial dan budaya dari masyarkat urban Kota. Selain dari Penggiat Pasar Sabtu, diskusi ini juga diramaikan oleh Muh.Nawir sebagai Pengamat isu Perkotaan yang menjelaskan tentangbagaimana karakteristik kaum urban yang memiliki keberanian, pandai membaca peluang, dan mencari tempat. Gerakan-gerakan kaum urban ini dapat dijadikan suatu alternatif gerakan dalam mempertahan hak atas kota, melatih kaum muda untuk mengambil peran dengan yang lain, dan yang paling penting ialah ketika berbicara soal Pasar Sabtu artinya berbicara terkait kepentingan kaum urban dalam kepentingan individu yang kemudian menjadi kepentingan bersama.

Pasar sabtu juga menjadi suatu gerakan yang menginspirasi para pengunjung maupun orang yang terlibat lansung di dalamnya, sebab pasar sabtu berangkat dari kesamaan ide dan visi yang dibugkus dalam sistem yang sangat demokrasi (baca: siapapun punya hak untu berkontribusi didalamnya) dan juga kreatif tutur Imam Hartono yang merupakan salah satu pelapak di Pasar Sabtu. Selanjutnya Imam juga mencoba melihat keberadaan Pasar Sabtu dalam kecamata Hukum yang di kenal dengan istilah “Validitas dan Keberlakuan”, menurutnya Perspektif ini menjelaskan bahwa secara Undang-Undang atau regulasi memang betul adanya tapi dalam konteks di lapangan itu tidak berlaku, semisal dalam undang-undang atau regulasi yang mengatakan aktivitas seperti “Pasar Sabtu” itu termasuk aktivitas yang dapat mengganggu aktivitas perkotaan namun di lapangannya itu tidak terjadi.

Selain Imam Hartono, Peserta Diskusi lainnya yang juga merupakan Pengunjung Pasar Sabtu, Maula memberikan pendapat bahwa Pasar sabtu harus dilihat sebagai hubungan antara Pasar sabtu sendiri dengan Warga Kota, artinya ketika membicarakan Pasar Sabtu (Inklusif) dalam konteks warga kota (eksklusif) maka Pasar Sabtu harus memposisikan dirinya sebagai suatu ruang informal dalam ruang kota yang memuat kepetingan secara bersama atas dasar Hak urban Kota. Maka dari itu dibutuhkan suatu rumusan ide atau metode bagaimana melihat keberadaan Pasar Sabtu sebagai suatu gerakan Ekonomi, Sosial, Budaya (EKOSOB) dalam ruang informal secara bersama untuk kepentingan warga kota tambah Muh. Nawir. Selanjutnya Muh. Nawir pun menjelaskan bagaimana gagasan ide serta metode pasar sabtu menawarkan bentuk atau model pasar di Kota yang memiliki ciri khasnya tersendiri dan bergerak secara vertikal (Kesemua Area Ruang Kota di Makassar).

Terakhir Fajrin yang juga merupakan pelapak di Pasar Sabtu memberikan keterangan bahwa apa yang disampaikan Muh. Nawir terkait bagaimana gagasan atau ide terkait Pasar Sabtu harus selalu diperbaruhi tak bisa berhenti hanya karena suatu permasalahan (Baca: Intervensi dari Pemerintah Kota) makanya pasar sabtu kini mulai mencoba beberapa metode semisal publikasi yang massif, bentuk-bentuk pasar sabtu yang di buat seberagam mungkin sebagai ruang belajar dan berkumpul bersama yang tentunya menjadi suatu gerakan informal (Ekonomi, Sosial, Budaya) dalam merebut ruang Kota atas dasar Hak Kita terhadap Kota.

Sumber : L.A.M.P Institute