*TEH DAN KEMESRAAN POLITIK* oleh Saifuddin al Mughniy

0
157

Sulawesita.com, Opini – Di pagi yang teduh, lewat pancaran mentari disudut kota kecil di Belitong yang akrab disapa dengan Negeri Laskar Pelangi. Sebuah toko yang masih bernuansa Tionghoa yang tak lekang oleh kemajuan zaman. Warkop Kong Djie namanya, tempat duduknya pun masih terbuat dari bangku kayu, dengan papan catur yang tersedia bagi pengunjungnya. Yang aneh bagiku adalah tempatnya kecil, puntung rokok berserakan dimana-mana, yah, teko yang dipakai untuk memasak masih begitu unik dan antik, kearifan lokal begitu melekat pada style warkop tersebut.

Sepintas hatiku ketus atas pertanyaan yang membuncah, apa yang menarik dari warkop tersebut yang rata-rata orang Belitung merekomdasikan ke tempat itu. Tentu secara sepintas mencoba membandingkan warkop yang ada di kota daeng (makassar) yang serba lux dan desain eropasentris. Keraguanku mulai terjawab, aku segera memilih tempat duduk dalam Warkop Kong Djie tersebut.

Pilihan menu dan minumannya pun cukup sederhana, Kopi Belitung dengan racikan kearifan lokalnya turut menyurutkan gaya kolonialisme dimasa lalu. Yah, sambil memesan secangkir teh, ditemani secarik buku “Nietzsche” yang berjudul “sebuah catatan pergumulan dan bentrokan”. Sebuah bacaan yang menarik disela “perbincangan politik” yang lagi menanjak naik.

Bagi sebagian orang kopi selalu menjadi pemantik nalar dan naluri berpolitik. Tentu pilihan memilih “Teh” sekedar menghangatkan suasana tak serius seperti tegukan kopi yang pahit dengan provokasi manisnya gula. Hampir kita tak percaya kalau kita sedang “memperalat gula” untuk meminum kopi. Teh, tentu suasananya berbeda, seperti para ningrat di teras kratonnya, dan seperti Kiyai di dipan pesantrennya menyaksikan santrinya bersenda gurau.

Sebagian kalangan menghabiskan waktu luangnya untuk berlibur ditempat yang sejuk, di puncak Bogor misalnya di perkebunan teh, Malino di Kabupaten Gowa tak luput dari agenda tamasya yang mengundang sejuta pesona dengan udara yang teramat dingin. Dari filosofi teh yang tumbuh di daerah dingin, sangat memungkinkan makna-makna kesejukan itu hadir disetiap tegukan secangkir teh.

Politik agregatnya lagi menanjak, iklim yang sulit terbendungi, apatah lagi menjelang perhelatan politik di 2018 mendatang. Tak ayal bagi pemilik parpol mengkonsolidasikan setiap figur untuk di dorong bertarung. Konsolidasi dan pertemuan tak lagi tentang “nasi goreng ala cikeas”, tetapi lebih pada suasana yang baru dengan sehangat teh. Bagaimana suasana cerita heroik dalam sejarah sastra kemudian cair di ruang tamu dengan seteko teh hangat.

Karenanya, suhu politik yang semakin memanas sejatinya di ciptakan “penetrasi” untuk menetralisir keadaan yang ada.  Mark pernah membilangkannya, bahwa realtas sosial akan melahirkan kesadaran sosial atau lebih dikenal dengan “kesadaran kritis”.  Iklim politik sangat ditentukan oleh faktor kesadaran yang kolektif.

Ini penting, sebab tanpa kesadaran kritis, berarti sama saja membiarkan politik bergerak dengan nurani yang kosong. Sementara disisi yang lain, kita butuh kultur demokrasi yang berdiametrikal pada politik yang santun, sejuk dan beretika.

Selanjutnya, rasakan tegukan akhirnya. Apapun situasinya, teh tetap menjadi penawar kemesraan.