*POLITIK YANG TAK SELESAI DIMEJA MAKAN* oleh Saifuddin al Mughniy

0
223

Sulawesita.com, Opini – Kadang memang kita tak merasa sadar bahwa “politik” adalah dua mata pisau yang sama tajamnya, dapat membunuh lawan dan melukai kawan. Benar kata petuah bijak yang mengungkapkan bahwa politik adalah energi yang tak selesai dibicarakan, ia dinamis, bergerak seirama tarian kebutuhan masyarakat. Politik adalah sarana konstruksi merebut tahta.

Dari sejarah klasik hingga politik modern, politik dan kekuasaan nyaris tak terbuang dalan debat, diskusi, pemikiran serta agenda aksi bagi penguasa untuk mempertahankan kredibilitasnya untuk meraih dukungan elektoral. Ini terus menggelinding sampai ketingkat yang paling bawah sekalipun. Transformasi demokrasi sayang tak hadir menyelesaikan sengketa politik dirumah tangga sendiri.

Proses berpolitik terbuka yang di inginkan justru tak terjawab diruang yang kecil. Kintekstasi politik menjelang pilkada serentak 2018 mendatang nyaris tak menyisakan “kengerian” yang mendalam. Kengerian yang di maksud adalah rivalitas politik yang hadir antara keluarga saling berhadap-hadapan.Yah, sebagian orang bisa berkata itulah “politik”. Tetapi paling tidak ada upaya meretas jalan keluarga memangsa keluarga, ini memang tragis tapi beginilah kekuasaan memaksa hasrat.

Katakanlah dibeberapa Pilkada sebelumnya di kabupaten Gowa keponakan dan tante berhadapan, antara adnan rival dengan Tenri olle, di Takalar 2017 baru ini antara posisi wakil dengan wakil (ipar), bertarung. Nah, 2018 Pilgub mendatang klan keluarga terasa muncul dipermukaan. Antara AQM yang berpasangan dengan NH, kemudian berhadapan dengan Cakka yang berpasangan IYL. Ini membuktikan bahwa “politik kekuasaan” telah menghentikan komunikasi diteras keluarga, bahkan meja makanpun tak lagu menjadi sarana terbaik mencairkan hubungan kekerabatan.

AQM dengan Cakka adalah dua sosok yang terpinang dalam kontekstasi politik di Pilgub mendatang. Apakah ini yang disebut perebutan gengsi di klan kahar muzakkar ? tentu akan terjawab dari kedua tokoh putera luwu ini. Pilihan IYL meminang Cakka bukan tanpa alasan, disamping Cakka dua periode Bupati, secara matematis basis politiknya tentu masih sangat terjaga. Begitu pula AQM yang sudah tiga periode jadi anggota DPD RI. Keduanya memiliki basis ideologi politik yang mumpuni.

Oleh sebab itu, antara AQM dan Cakka bisa dibilang satu “pergumulan” untuk meraih tahta. Karena keduanya sudah pasti berhadapan diruang politik bukan lagi di “meja makan”.