Mahasiswa Zaman Now di Bone

0
102

Ada beberapa catatan peristiwa yang layak kita pandang sebagai awal mula pergerakan mahasiswa di tanah air. Pergerakan tersebut bermula pada tahun 1908.
Pada masa itu,mahasiswa dari lembaga pendidikan School tot Opleiding van Indische Artesn (bahasa Indonesia : Sekolah Pendidikan Dokter Hindia), atau yang juga lebih dikenal denga singkatan STOVIA mendirikan sebuah wadah pergerakan pertama di Indonesia yang bernama Boedi Oetomo, dimana organisasi ini didirikan di Jakarta pada tanggal 20 Mei 1908. Wadah ini merupakan bentuk sikap kritis mahasiswa tersebut terhadap sistem kolonialisme Belanda yang menurut mereka sudah selayaknya dilawan dan rakyat harus dibebaskan dari bentuk penguasaan terhadap sumber daya alam yang dilakukan oleh penjajah terhadap bangsa ini, walaupun terkesan gerakan yang mereka lakukan masih menunjukkan sifat primordialisme Jawa. Organisasi ini berdiri berawal dari kegiatan akademis berupa diskusi rutin di perpustakaan STOVIA yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa Indonesia yang belajar di STOVIA antara lain Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Goembrek, Saleh, dan Soeleman.
Berangkat dari sebuah diskusi itulah mahasiswa tersebut mulai memikirkan nasib masyarakat Indonesia yang makin memprihatinkan di tengah kondisi penjajahan dan selalu dianggap bodoh oleh Belanda kala itu, di samping itu diperparah dengan kondisi para pejabat pemerintahan pada saat itu dari kalangan pribumi yang justru makin menindas rakyatnya demi kepentingan pribadi dan kelanggengan jabatannya, seperti menarik pajak yang tinggi terhadap rakyat untuk menarik simpati atasan dan pemerintahan Belanda.
Selain itu, pada tahun 1908 di tahun 1922 juga , mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi di Belanda yaitu Drs. Mohammad Hatta mendirikan organisasi Indische Vereeninging yang kemudian berubah nama menjadi Indonesische Vereeninging pada tahun 1922 yang menjadi tonggak awal pergerakan mahasiswa dalam upayanya menghentikan rezim kolonial.
Organisasi ini awalnya merupakan suatu wadah kelompok diskusi mahasiswa yang kemudian orientasi pergerakannya lebih jelas dalam hal politik. Misi nasionalisme yang ditunjukkan organisasi ini lebih jelas dipertajam dengan bergantinya nama organisasi ini menjadi Perhimpunan Indonesia. Melalui majalah Indonesia Merdeka, mereka yang tergabung dalam organisasi ini mulai gesit dalam melancarkan propaganda pergerakannya, sudah banyak artikel yang dimuat dalam majalah tersebut yang mengkritisi bagaimana kondisi bangsa pada saat itu, sampai muncul statement yang mengatakan bahwa sudah saatnya Bangsa Indonesia tidak menyebut negaranya dengan sebutan Hindia Belanda. Termasuk dalam majalah tersebut memuat tulisan yang disebut manifesto 1925 yang isinya antara lain: [1] Rakyat Indonesia sewajarnya diperintah oleh pemerintah yang dipilih mereka sendiri; [2] Dalam memperjuangkan pemerintahan sendiri itu tidak diperlukan bantuan dari pihak mana pun dan; [3]Tanpa persatuan kukuh dari pelbagai unsur rakyat tujuan perjuangan itu sulit dicapai. [1]
Mahasiswa merupakan salah satu tongak penting dari perjalanan sebuah bangsa ini. Hal ini tentu saja sangat beralasan mengingat bagaimana pentingnya peran serta fungsi dari mahasiswa yang selalu menjadi aktor perubahan dalam setiap momen – momen bersejarah di Indonesia. Sejarah telah banyak mencatat, dari mulai munculnya Kebangkitan Nasional hingga Tragedi 1998, mahasiswa selalu menjadi garda terdepan.

Mahasiswa Saat Ini
Mahasiswa yang kebanyakan saat ini dilenakan oleh sikpa begitu mudahnya akrab sistem kapitalisme dan berkarib dengan kehidupan hedonis mulai dari warkop/cafe yang semakin menjamur di sudut kota bahkan mungkin ada juga yang mabuk cinta hinggah gelar sarjana itu ada. Sibuk akan tugas akademik, hingga melupakan peran dan fungsi sebagai mahasiswa. Sikap apatis pun sudah berkecimpung dalam dalam benaknya.
Eko Prasetyo dalam bukunya Bangkitlah Gerakan Mahasiswa terbitan Social Movement Institute dan Resist Book , bertutur : “Kebangaan tersendiri ketika mulai OSPEK dengan menyandang label “Mahasiswa” ketika memulai awal perkuliahan, kebanyakan mahasiswa memiliki mimpi – mimpi heroik perubahan dan mereka berbondong – bondong mengikuti organisasi tertentu, heroisme para mahasiswa telah luntur dengan berjalannya waktu, semangat heroisme hanya muncul ketika di OSPEK dan di kaderisasi dengan euforia masa lalu dari senior para mahasiswa. Seiring berjalannya waktu, semangat euforia itu mulai hilang ketika berada di ruang kuliah, mahasiswa mulai dibelenggu oleh peraturan yang kadang – kadang tidak masuk akal,Lihatlah sekelilingmu Kampus menyulap dan meninabobokan kesadaran para mahasiswa”. Kemudian, penulis melanjutkan kalimatnya : “Kepatuhan menjadi norma, taat menjadi agama, dan indeks prestasi menjadi keimanan”.[2]
Euforia yang hanya ada pada saat Orientasi pengenalan kampus (ospek) kian memudar mungkin juga ada yang sudah punah,menyandang gelar mahasiswa kini mulai di pertanyakan, bagaimana tidak jikalau kita hanyalah mahasiswa KuPu-kuPu (Kuliah Pulang-Kuliah Pulang)
Sadarlah bung, kita Jangan di lenakan oleh besarnya sejarah mahasiswa yang menjadi salah satu pelopor dari perubahan sebuah bangsa. Mereka membuat sebuah peradaban pada masanya maka goreslah masamu dengan tinta perjuangan.
Mari tumbuh besar menjadi pejuang atau mati dalam kebodohan
Oleh : Wandi
Mahasiswa STIH P. W
Ig @wndyy33
Referensi :
[1] Akbar Bakkang , Sejarah Pergerakan Mahasiswa (daring) http://akbarbakkang.blogspot.co.id/2012/05/sejarah-pergerakan-mahasiswa.html?m=1 ,diakses pada 2 November 2017
[2] Bangkitlah Gerakan Mahasiswa : Eko Prasetyo