Sulawesita.com – Minggu ini PSM makin kokoh di puncak klasemen Liga Indonesia, setelah mengandaskan Persipuar Jayapura di Stadion kebanggaan, Mattalatta, dengan skor meyakinkan, 4-2. Berkat kemenangan ini, poin PSM kini menyentuh angka 53 untuk 29 laga, terpaut 4 angka di atas Persib Bandung yang ada di urutan kedua. Tren positif ini kembali menumbuhkan gairah dan semangat para supporter yang telah lama menantikan gelar paling bergengsi itu diboyong ke markas Juku Eja. Memang masih terlalu dini untuk membahas gelar liga. Namun, secara statistik, perjalanan PSM pada musim kali ini jelas lebih baik dari tahun lalu.

PSM, kita tahu lebih dari sekadar klub sepak bola, ia adalah kebanggaan warga Makassar dan bahkan Sulawesi-Selatan pada umumnya. Saya pernah merasakan hangatnya suasana stadion kala menyaksikan laga PSM. Betapa antusias penonton menghadirkan nuansa yang menyihir adrenalin. Aura kemenangan seperti merasuk ke dalam tubuh, saat mendengarkan nyanyian dukungan dari penonton. Kala itu saya menyadari, PSM adalah bagian penting dari Makassar.

Di tengah euphoria stadion itulah saya mengenal sosok supporter yang selalu tampil nyentrik, dengan rambut Mohawk, memimpin para supporter bernanyi dan meneriakkan dukungan. Ia adalah Daeng Uki, Panglima Laskar Ayam Jantan. Beliau dikenal sebagai figure yang patut diteladani atas dedikasi dan kecintaan terhadap tim. Ia menjadi bagian penting dari solidnya kelompok-kelompok supporter, seperti LAJ, The Maczman, KVS, dan lainnya. Bahkan demi mengabadikan kecintaannya terhadap PSM, ia memberi nama anaknya, Jalayalah PSM Reski Ilahi.

Kepada Daeng Uki, seorang yang punya dedikasi terhadap PSM, saya pribadi mengucapkan selamat, dan teruslah melakukan kerja-kerja baik itu. Karena, sebagaimana kita tahu bersama, PSM bukan hanya tentang sepak bola di atas rumput hijau, namun di dalamnya ada kehidupan, semangat juang, dan perjalanan sejarah.

Saya membaca riwayat Daeng Uki dan apa yang telah dilakukannya untuk PSM, tentu menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana sesungguhnya seorang supporter bersikap dan berkontribusi terhadap tim. Supporter adalah sel penting yang secaca non-teknis menyuntikkan gairah dan tak henti menciptakan iklim kemenangan di setiap laga. Tentu saja, kawan-kawan supporter harus senantiasa menjaga agar semangat sportivitas harus tetap didahulukan. Kita mendukung PSM selalu menang, namun jauh lebih penting dari kemenangan adalah meraihnya dengan sikap ksatria. Kalah tak mengutuk, menang tak mencaci. Begitulah seharusnya sikap ksatria seorang supporter.

Kini, klub kebanggaan kita menjejak usia yang ke 103, sebuah perjalanan panjang yang tak singkat, lebih tua dari usia negara ini. Ada banyak capaian kemenangan juga kekalahan dalam rentang waktu itu. Namun satu yang pasti selalu ada dalam klub ini adalah, semangat pemenang yang tak pernah mati.

Mari kita dukung para pemain dan official bekerja professional, melewati laga demi laga dengan penuh percaya diri. Sementara itu, kita yang duduk di tirbun, atau berdirii di balik pagar, tak akan berhenti meneriakkan yel-yel dukungan. Karena kita tahu, semangat itu tetap harus dijaga. Karena hanya semangat yang tak pernah kendor yang membedakan pejuang dengan pecundang.

Untuk kawan-kawan supporter, mari kita beri dukungan kepada klub kebanggaan kita. Penghujung musim sudah di depan mata dengan raihan yang mengagumkan. Dengan lima laga tersisa, secara statistik, PSM hanya butuh memenangkan 4 diantaranya untuk “Kembali Bertahta” di kerajaan sepak bola indonesia. “Ewako PSM…!, Paentengi siri’nu…!!!”

Facebook Comments

Arham Basmin