Sulawesita.com, Opini – Mungkin ini tidak menarik untuk di baca apatah lagi untuk dikaji lebih mendalam, sebab ini adalah hal yang biasa, bukan sesuatu yang luar biasa, sebagaimana tulisan sejatinya para penulis. ini mungkin sebuah catatan yang mungkin akan terbuang kelak, sebab topik ini bukanlah topik yang bisa saja ditelan dengan mentah-mentah bagaikan “cemilan” yang terkadang membosankan. Sungguh tidak banyak diantara kita yang hanya sekedar melihat kopi pada warnanya yang hitam dan pekat. Bahkan terlalu banyak diantara kita mendefenisikan bahwa kopi itu sekedar penghalang rasa “ngantuk”, tetapi kalau kita ingin membaca sedikit kilas balik sejarah dihampir semua gerakan atau revolusi itu dimulai dari para penikmat kopi.

Dibeberapa negara sajian kopi telah menjadi trend baru bagi perkembangan kota dan dunia, penikmat kopi nyaris tak “menyepi” sebab kopi selalu tempil penyemangat dari rasa lelah bagi kaum penikmat dan pecinta. Tidak sedikit orang harus melewati waktu bersamanya, menjadikannya hidup begitu ramai, tak hening dari keramaian. Hiruk pikuk masyarakat modern dan aktfitas manusia metropolis menjadikannya tidak sempurna tanpa bersentuhan dengan kopi.

Rasanya yang pahit tak membuat manusia mengerutkan dahinya, serta mengurungkan lidahnya dalam rasa, saya terkadang menikmati setiap pesanan para pengunjung disetiap café, restaurant, hotel, warkop, akan Nampak kedengaran begitu jantan ketika seseorang memesan dengan kalimat “kopi satu yah”, sebuah bahasa penegasan, bahwa penikmat kopi itu terkesan telah menjadikan kopi sebagai gaya hidup. Bisa di bayangkan, kalau café yang bercirikan minuman kopi Nampak aura “intelektualisme”, kejantanan, serta sikap berani terhadap apa yang Nampak dibalik pahitnya kopi. Mereka tak peduli dengan itu, sebab mereka tahu bahwa kenikmatan kopi bukan pada gula dan susu yang melarutkannya, tetapi nikmatnya kopi ada pada “rasa pahit” yang estotik diantara “ke-egoan susu” dan keangkuhan manisnya gula. Bahkan sampai saat ini kita tak menenmukan kalimat bahwa nikmatnya “susu dan gula” itu, justru mereka lebih terapresiasi bahwa begitu nikmatnya kopi, ya kopi.

Bahwa sebuah penelitian yang pernah di rilis oleh media Pers Transparansi Internasional yang bermarkasi Berlin Jerman, diungkapkan bahwa suatu kota yang kebanjiran cafe dan warung kopinya, maka akan sangat berpengaruh terhadap produktifitas masyarakatnya, dalam hal ini menjadi masyarakat pemalas. Ya, mungkin bisa ada benarnya, atau boleh jadi salah, tergantung ghiroh serta motivasi seseorang untuk menikmati kopi itu sebagai apa. Katakanlah Starbuck misalnya yang sudah menjadi tempat ngumpul para “egalitarian”, eksistensinya terkesan memutus logika-primordialisme, sekat-sekat sosial runtuh bagaikan butiran debu yang ter-terpa angin, pupus, hilang dan tanpa bekas. Hegemonian, begitu tak Nampak sebab tertutupi oleh “hijab” penikmat kopi malam.

Soekarno, Syahrir, Tan Malaka, Michel Gerbachev (Mantan Presiden Uni Soviet), Juan Peron (mantan Presiden Argentina), Roberto Fujimori (Peru), sederet nama besar lainnya, menghabiskan waktunya meneguk kopi untuk mengalirkan gagasan kebangsaan mereka sekalipun harus ditemani cerutu dan gulungan tembakau. Sebuah revolusi sosial banyak yang pecah lewat para pecandu kopi. Bahkan beberapa tulisan mempengaruhi reformasi di tahun 1998. Walau tidak sedikit yang gelisah, untuk mencoba menuliskan sebait ayat untuk sebuah perubahan.

Bahkan nyaris kisah cinta pun terurai lewat wejangan kopi. Kopi tentu bukan sesuatu hanya bisa di teguk tetapi ia mengandung khazanah filosofi yang tinggi, pertanyaan yang kemudian muncul adalah kenapa kopi harus bertahan sebagai minuman pavorit, sebab kopi bukan hanya menyuguhkan rasa, tetapi ia lebih pada suguhan cinta. Falsafahnya adalah, kopi yang berwarna hitam pekat adalah sebuah ruang tanpa warna dan batas, mungkin secara etimologis,hitam itu sebuah kegelapan, rasanya yang pahit menandakan bahwa sebuah hidup tak selamanya indah dan manis. Prahara kehidupan seringkali menerpa dinding kehidupan manusia, yang kemudian dianggapnya sebagai “dinamika”. Namun pada proses kopi menjadi sebuah lisensi minuman maka ia meleburkan kegelapan menjadi sebuah cahaya, dan rasa pahit menjadi sebuah untaian keindahan yang akan dirasakan oleh penikmatnya.

Pada intinya, CINTA, KOPI adalah jalan tengah untuk memecah kebuntuan yang akan melahirkan sebuah REVOLUSI. Minimal akan melahirkan nilai etis dan kebaikan di dalamnya.

Facebook Comments