Sulawesita.com, Opini – Jika kotak kosong terjadi, maka sejumlah kekuatiran akan mengemuka. Kekuatiran mandeknya demokrasi. Kekuatiran matinya proses regenerasi. Kekuatiran tidak berjalannya pembelajaran politik. Kekuatiran tidak adanya pilihan alternatif bagi publik.

Apa benar, kita tak lagi punya stok pemimpin? Lalu, bagaimana tanggungjawab Parpol sebagai lembaga pengkaderan politik? Apakah Parpol terlalu sibuk dengan urusan Pileg saja? Ataukah Parpol sudah berada dalam ruang-ruang nyaman?

Hingga detik ini, hanya kubu petahana yang resmi mendeklarasikan diri dengan paket yang sama untuk maju melanjutkan dua periode pemerintahan.

Sementara, sejumlah figur lainnya masih sibuk sosialisasi via baliho dan menggalang di medsos. Belum ada pihak yang menunjukkan keseriusan, setidaknya mengumumkan ke publik terkait pencalonan pada Pilbup nanti.

Sementara, jika kita menilik Pilkada periode lalu, ada lima paket yang terlibat kompetisi, dengan komposisi yang berwarna, lintas generasi dan multi sektoral. Bahkan, ada satu paket calon yang berhasil masuk dengan menggunakan kendaraan jalur independen.

Kita tak bicara kumulatif, tentang berapa angka jumlah pemilih daerah ini. Karena, memilih pemimpin ukurannya bukan pada jumlah, dan berapa jiwa yang akan dipimpinnya. Pemimpin mutlak lahir dari sebuah kelompok yang telah membangun tradisi kepemimpinan.

Jika benar kotak kosong terjadi, maka kita bisa melihat kondisi aktual matinya proses regenerasi. Dan tentu saja ini akan mencitrakan situasi jumud yang bisa bermakna apatis atau kuatnya hegemoni penguasa dalam mengamankan kekuasaan.

Apatis, bagaimana pun adalah bentuk dosa sosial yang mutlak ditanggung terutama oleh mereka yang punya kans (wacana atau praktisi) untuk berkontribusi dalam proses demokrasi.

Kecuali, memang kita semua telah mengangkat bendera putih untuk hegemoni kekuasaan. Ataukah memang ‘degaga jago’?

Facebook Comments