Studi sosial telah banyak menyoal tentang fakta-fakta sosial sekalipun itu bukan “kebenaran” yang sesungguhnya, demikianlah cara pandang Thomas Khun (1962), The structure of paradigm. Begitu berbeda cara pandang positivisme yang cendrung melihat sesuatu apa adanya lalu didalihkan sebagai kebenara. Perkataan bijak selalu mengatakan bahwa “kritis tanpa analisis” akan menularkan perasaan demonstratif, bahkan nyaris pikiran bias dan nalar bisa demikian liarnya.

Marthin Heidegger sebagai “fenomenologis” selalu memandang sesuatu dibalik fakta dan kenyataan, yah, kurang lebih “epesteme” menurut Michel Foucault dengan memandang sesuatu dibalik kenyataan dan fakta (metafisik). Pertentangan pengetahuan telah melahirkan daya kritis di zamannya, tak heran para filsuf membuka “padepokan atau academos” hanya untuk menjaga keberlangsungan pengetahuan. Seperti misalnya pelahiran “romantisme” dari perseteruan realisme Descartes dengan rasionalisme Kant, yang berhasil didamaikan oleh David Hume, sampai kepada pentaubatan Sartre dihadapan Ali Syariati.

Kedewasaan para filsuf kritis tapi tak mengecam dan menyalahkan. Manusia masa lalu diawal perkembangan sains, kelahirannya terus dijaga oleh generasi berikutnya. Walau memang dalam jejak sejarahnya tidak sedikit filsuf mati karena pengetahuan yang dimilikinya, bagaimana Plato yang dipenjara dan diracun hanya karena tuduhan meracuni cara berfikir anak muda di Yunani saat itu. Bagaimana Socrates yang mengagungkan demokrasi lalu “mengkhawatirkannya”.

Perkembangan pengetahuan pada fase berikutnya, memasuki era modern (kontemporery), gejala manusia pun dalam kehidupannya mengalami “pergeseran”, mungkin era pengetahuan sudah selesai, sehingga harus memilih jalan tengah “antara sosialisme dan kapitalisme”. Kecendrungan inilah yang kemudian memicu munculnya perilaku “hedonisme”. Masyarakat lalu berubah menjadi masyarakat konsumtif.

Tetapi, diluar nalar tersebut seperti sejarah pengetahuan dan agama mengalami “alienasi” keterasingan diakibatkan karena egosentrisme perilaku undividu timbullah “merasa benar”, orang lain yang salah. Ini nampak menjadi kecendrungan sikap egoisme. Mengecam tapi tak menganyam.

Makna kalimat tersebut pada alinea tersebut diatas adalah, perilaku egosentrisme mempunyai kecendrungan mengkritik, mengumpat, mencaci, mengecam, ini biasanya selalu menganggap dirinya benar, dan pihak lain yang keliru. Fenomena ini selalu menciptakan ketegangan, kerenggangan, bahkan sampai pada konflik.

Perilaku “menganyam” terkadang sulit ditemukan. Dan bagi saya perilaku ini ada pada sosok negarawan, filsuf, kaum agamawan. Namun ini juga biasa tertuduh sebagai kaum “liberal”. Menganyam yang dari kata “anyam”, yang biasa dilekatkan pada suku “pengrajin”, biasa anyaman bambu, anyaman rotan, dan sejenisnya yang diracik dan dianyam untuk membentyk satu kesatuan yang indah.

Setidaknya diera manusia modern yang tak lagi menjadikan nilai dalam kehidupan berbangsa, bernegara, bermasyarakat dan beragama, dan keretakan atas perbedaan paham dan pandangan dirajuk dan dianyam kembali hingga menjadi “bangsa yang indah” penuh keharmonisan dan tanpa sekat didalamnya, dan itulah wujud nyata suatu bangsa yang sebenarnya. **

(oleh : saifuddin al mughniy)

Facebook Comments