Sulawesita.com, Opini – Seminggu terakhir, warkop-warkop di Makassar seringkali menyelipkan pembahasan soal Nurdin Halid (NH). Topiknya bukan lagi soal gerakannya bersama Golkar atau paketnya Aziz Kahar, tapi lebih mengerucut ke pertanyaan: benarkah NH serius maju Pilgub?

Argumentasi umumnya berputar soal kans dan rivalitasnya dengan Syahrul Yasin Limpo (SYL). Keduanya dianggap menjadi sentrum politik Sulsel dan posisinya bukan lagi pada level pemeran atau pion. Mereka sudah ada di balik strategi.

Untuk SYL, manuvernya pada Munas Golkar tahun lalu adalah indikator kalau dia sudah ingin dicitrakan sebagai tokoh nasional representatif Sulsel. Kiprahnya dalam forum Munas Golkar bukan pada siapa dia berpihak, ia membangun citra untuk menguatkan bargaining.

SYL memang sudah harus naik kelas, dengan syarat ia harus meyakinkan elit Nasional, termasuk tentu saja presiden Jokowi. Untuk menembus Jokowi, kabarnya bisa lebih efektif lewat Luhut B. Pandjaitan. Entahlah.

Dengan target nasional ini, SYL harus menurunkan tensi seteru dengan tokoh-tokoh lokal, jika tidak mampu menjinakkannya. Pengecualian untuk kasus Takalar. Sejauh ini, SYL dianggap cukup berhasil meredam gejolak, dan namanya tetap terjaga untuk diplot.

Namun, penilaian dan keputusan tetap kembali ke presiden, atau Luhut. Karena, bagaimana pun, presiden harus menemukan sosok ‘penopang JK’ jika tak ingin kehilangan suara di timur.

Nurdin Halid Tak Serius?

Nurdin Halid resmi mengumumkan pasangannya Aziz Kahar untuk Pilgub Sulsel pada akhir April lalu di gedung Golkar. Apakah NH serius?

Serius atau tidak hanya NH yang tahu dengan SYL. Kok SYL? SYL paham dengan siapa dia harus berlawanan dan kepada siapa dia hanya bersikap abai.

Entah, apakah benar SYL tak menganggap NH sebagai rival, ataukah memang ia ingin melepas begitu saja pertarungan sang adik: Ichsan Yasin Limpo.

Kalau kata sebagian pengamat: “di luar, politisi bisa saja terlihat bertengkar, namun di meja makan, semua bisa diselesaikan.” Apalagi untuk urusan adik-kakak.

Kembali ke NH. Dianggap Gubernur bukan target utamanya. Terutama saat menemukan fakta bahwa hasil survei masih jauh dari ekspektasi. Lalu, untuk apa NH menebar baliho dan memerintahkan pengurus Golkar bekerja mensosialisasikan namanya dan tagline Sulsel Baru?

Misi Mengangkat Golkar

Sulsel Baru yang dikampanyekan NH adalah Sulsel dengan iklim baru. NH tetap berada pada posisi berhadapan dengan SYL.

Setelah merebutnya dari SYL, NH harus kembali menyegarkan Golkar dan membuatnya solid di bawah kendalinya. Tagline Sulsel Baru diharapkan bisa memverifikasi siapa kader setia dan siapa yang hanya kader kutu loncat.

Dan memilih Aziz Kahar jadi paket adalah salah satu indikator yang dianggap saling menggerusi, bukan saling menguatkan.

Nah, apakah NH serius maju Pilgub ataukah hanya ingin menguatkan Golkar sambil mencari lawan yang tepat bagi YL? Kita tunggu saja perkembangannya.

Facebook Comments