Sulawesita.com, Makassar – Kotak kosong tidak berjalan alami (by design). Langkah petahana melakukan lobi politik lintas Parpol adalah indikasinya. Padahal, jika dikalkulasi, tanpa mendekati parpol manapun petahana sudah punya kendaraan yang cukup, yakni Golkar.

Demikian, diungkapkan oleh Andi Fadly Yusuf, dosen Ilmu Komunikasi Jurnalistik Universitas Islam Negeri Makassar, sebagai salah pembicara pada acara Ngopi (ngobrol politik) bertajuk Pilkada Bone; Implikasi Kotak Kosong dan Ancaman Degenerasi yang diselenggarakan oleh Bone Muda Institute di Kafe Turbo Makassar, 16 Juli 2017.

Mantan Ketua Aliansi Jurnalistik Independen ini menyayangkan jika ada ‘skenario kotak kosong’. Sebuah kemunduran demokrasi, dan makin menguatkan skema politik transaksional. Sebagaimana kencenderungan selama ini, tak ada tiket Parpol yang benar-benar bisa diraih secara gratis.

Andi Fadly juga menyoroti peran dan kinerja Parpol. “Jika kotak kosong terjadi, berarti kegagalan kaderisasi parpol dalam melahirkan kader pemimpin. Tak ada adu visi, tak ada pilihan lain, tak ada upaya pencerahan dalam masyarakat”, sambung Andi Fadly.

Padahal, Kabupaten Bone dikenal memiliki stok pemimpin yang melimpah hingga level nasional.

Pembicara lain yang turut hadir dalam dialog yang digelar sebagai respon mengantisipasi kondisi demokrasi yang jumud adalah Mukhramal Azis (pojok Sulsel), Dr. Patawari (Pakar Hukum), dan Nursandi Syam (JSI).

“Kotak kosong’ itu bukan manusia, masa sih petahana melawan kotak?” Ujar Dr. Patawari. “Itu akan menurunkan wibawa seorang bupati yang punya perangkat lengkap untuk bertarung dalam Pilkada,” kata pakar hukum tata negara ini.

Dialog yang dihadiri oleh mahasiswa, aktivis, kalangan pers (media cetak dan online), serta akademisi ini, ditutup dengan seruan bersama kepada Parpol untuk mencairkan ruang-ruang bagi munculnya pemimpin alternatif, demi menjaga iklim demokrasi tetap sehat. (idw)

Facebook Comments