Sulawesita.com, Opini – Seorang kawan honorer menggerutu soal gajinya sebulan yang hanya 150 ribu rupiah. Sebenarnya upah yang jauh di bawah UMR itu sama sekali tak bisa dijadikan tumpuan hidup, keluhnya. Apa yang menghidupinya selama ini, tak ia ceritakan. Ia bertahan sambil memendam kecewa, karena hingga di tahun keempat sejak resmi jadi honorer, impian jadi PNS kian tak jelas.

Kisah kawan itu sebenarnya bisa menimpa siapapun di negeri ini, yang memilih jadi tenaga honorer. Pilihan yang dianggap realistis (pasrah) saat lapangan kerja kian kompetitif.

Kenyataannya, honorer adalah oknum yang kerap jadi komoditas politik. Paling mudah digiring ke dalam lingkaran politik hipokrit, politik yang hanya berisi janji-janji belaka.

Karena kawan-kawan honorer diimingi janji, maka mereka bisa masuk dalam kategori pemilih loyalis, dan kemungkinan bersama seisi rumahnya.

Honorer yang seksi

Nah, momen jelang Pilkada, saat paling tepat untuk kembali menggiring kawan-kawan yang berstatus honorer untuk memberikan hak suaranya. Kalau perlu ikut kampanye sekalian, biar terlihat nyata totalitasnya.

Apakah salah mengajak mereka berpolitik? Bukankah mereka juga punya hak untuk memilih dan menentukan ke mana arah pembangunan daerahnya dan siapa yang akan memimpin pembangunan itu?

Sebenarnya jika mereka ikut tanpa tendensi, atau mereka memihak tanpa tekanan, sama sekali tak perlu dipersoalkan.

Karena, setiap manusia punya cara sendiri untuk menentukan perjalanan hidupnya. Meskipun, sebenarnya lebih banyak dari kita yang hanya menurut saja pada keputusan orang lain, membiarkan masa depan ditentukan oleh penguasa.

Seragam yang Beda

Tapi, honorer dalam status kepegawaian adalah strata yang berada di bawah PNS. Begitulah persepsi yang membentuk perlakuan sebagian PNS (juga publik pada umumnya) kepada honorer.

Kenyataan lain adalah kebijakan pimpinan. Di awal 2014, perintah seragam putih adalah sebuah upaya penciptaan kondisi psikologis yang aromanya setingkat di bawah rasis. Honorer berbaju putih plus bawahan hitam, sekantor dengan PNS berbaju keki plus emblem pangkat di bahu.

Kebijakan itu sempat memicu kontroversi, tapi yang kontra hanya segelintir dari oknum honorer yang keras kepala. Sementara yang PNS asyik saja, mereka punya atribut kebesaran yang jadi kebanggaan untuk menguatkan nilai dan citra di tengah masyarakat.

Lagi pula, di ruang-ruang publik, banyak dari kita menaruh hormat hanya dengan melihat kostum dan pangkat. Lupa kalau baju dan emblem hanya melekat, hanya hiasan.

Publik tak banyak tahu bagaimana kinerja seorang PNS, yang mereka tahu status itu adalah cita-cita yang diidamkan seluruh keluarga. Buat banyak orang, urusan menilai kinerja serahkan saja ke setumpuk dokumen, berkas yang bisa saja diisi sesuai keinginan bos.

Nilai PNS dan Honorer

Sekarang, waktu yang pas untuk bicara blak-blakan soal honorer dan PNS. Keduanya adalah aparatur, mereka didaulat oleh negara untuk bekerja menjadi pelayan warga.

Abaikan saja gaji dan tunjangan mereka, yang bedanya bak kopi sachet versus kopi expresso. Harga dan model yang diutamakan, sayangnya rasa tak bisa dipaksakan. Kalau kata iklan, rasa tak bisa bohong, begitupun dengan kinerja aparatur.

PNS dan honorer pun begitu, menilainya bukan dari baju dan jabatannya, juga dompet dan jumlah kendaraannya. Yang dinilai dari keduanya adalah kinerja.

Jelang Pilkada kemungkinan bargaining honorer akan kembali dinaikkan. Mereka yang bergaji tak layak, kembali akan dibujuk dengan segala macam rayuan, tunjangan bahkan fasilitas khusus biar segera bergelar PNS.

Sayangnya, masih banyak yang percaya dengan janji manis itu, lalu melibatkan diri dalam intrik politik.

Masih ada saja kawan-kawan honorer yang percaya kalau ada oknum pejabat yang bisa mengurus mereka menjadi PNS tanpa tes atau dengan bayaran sekian juta.

Padahal, calon kepala daerah atau tim suksesnya sepenuhnya tak memiliki kewenangan untuk menentukan masa depan seorang honorer.

Nah, kalau masih ada yang mencoba menyogok dengan janji PNS, segera laporkan ke Saber Pungli, itu sudah bisa dikategorikan sebagai tindakan KKN.

Facebook Comments